3 Cara Berinvestasi di Reksadana

Dollar cost averaging (DCA) : Strategi dimana para investor menanamkan modalnya dengan jumlah yang sama dalam interval waktu yang sudah ditentukan.

contoh : Ibu Anggi memutuskan untuk berinvestasi sebesar Rp.500.000,- di reksadana saham setiap bulan dalam jangka waktu 10 tahun untuk tujuan kuliah anak pertama.

Kelebihan dari DCA adalah simple, bisa otomatis (melalui program autodebet di agen penjual reksadana) dan investor tidak perlu aktif ngecek pergerakan reksadana secara rutin. Asal sudah memilih produk RD yang tepat dengan good historical track record, investor tinggal merem aja.

Kekurangan dari DCA adalah “mengorbankan” profit yang bisa dimaksimumkan demi kemudahan dalam berinvestasi. Maksudnya mengorbankan apa? lihat penjelasan tentang value cost averaging dan bandingkan dengan sistem DCA ini.

DCA biasanya dipilih oleh individu yang memiliki penghasilan tetap setiap bulannya.

Value Cost Averaging (VCA) : Strategi dimana investor menanamkan modalnya dalam jumlah yang lebih banyak pada saat harga lagi turun dan jumlah yang lebih sedikit pada saat harga lagi naik.

Market timer donk Din?nggak kok! emang sih kesannya kita harus memprediksi kenaikan dan penurunan IHSG. Tapi kita kan bukan trader, trader profesional juga ga mau ngelawan market kok, mereka sudah melakukan teknikal analisis untuk menentukan harga kapan mereka harus jual , beli ataupun cut loss.

Kalau di reksadana lebih seperti ini : Investor ngecek secara harian / mingguan , kapan waktu – waktu yang dirasa tepat untuk berinvestasi lebih di reksadana. Mungkin pada minggu itu rd lagi turun karena banyaknya pemberitaan negative. Boleh deh itu beli, apalagi kalau dibandingkan dengan minggu sebelumnya, minggu ini lebih rendah harganya.

Intinya sih jangan jadi market timer. TETAP RUTIN berinvestasi pada interval waktu yang sudah ditentukan. Kalau komitmentnya secara bulanan atau per 3 bulan, ya udah invest tetap di waktu tersebut. Cuma di banding investor DCA, investor VCA harus lebih aktif melihat pergerakan reksadananya untuk menentukan harus beli dengan jumlah yang lebih banyak atau lebih sedikit.

Ada nih kejadian dimana orang berinvestasi di reksadana bener – bener nunggu harga turun, eh ga turun – turun malah keburu duitnya dipake buat yang lain . Strategi ini bkn berarti bener2 nunggu harga terendah bgt.Ya plg ga lbh rendah dr pergerakan kmrn2nya.

VCA ini bisa digunakan untuk yang memiliki penghasilan tidak tetap. Bukan karena mau ngeliat harga tinggi rendahnya tapi karena penghasilan yang fluktuatif.

Contoh : Ibu Nita adalah seorang freelancer . Beliau sudah melakukan perhitungan kebutuhan dana pendidikan anak. Invest yang dibutuhkan adalah Rp.1.5jt per bulan untuk dana dari TK – kuliah. Di bulan November, penghasilan menurun sehingga hanya bisa berinvestasi sebesar Rp.500.000,- Di bulan Desember ada pembayaran untuk projek besar yang sudah dilakukan sebulan sebelumnya. Maka yang harus diinvestasikan adalah Rp.1jt (kekurangan dr bulan sebelumnya) + Rp.1.5jt (jatah invest bulan Desember) = Rp.2.5jt

Lumpsum : Investor menaruh dana langsung penuh di awal. Biasanya investor ini yang memang punya modal besar dan tidak ingin diribedkan dengan investasi rutin.

Kelemahan dari lumpsum adalah investor hanya mendapatkan satu harga saja instead of beberapa harga seperti DCA ataupun VCA.

Lihat contoh di bawah ini

Dengan DCA, investor bisa mendapatkan beberapa harga (bisa rendah dan bisa tinggi) dan jumlah unit yang berbeda – beda sedangkan lumpsum hanya mendapatkan satu harga . At the end DCA memberikan return yang lebih dari lumpsum (Kecuali di skenario ini lumpsumnya didapat di harga yang paling rendah banget dibanding bulan2 lainnya which is untung-untungan kalau bisa dapet harga terendah)

Contoh Lumpsum : Ibu Sylvi ingin memiliki dana sebesar 5M untuk mengambil franchise brand terkenal 15 tahun lagi. Dengan menempatkan dana di reksadana saham yang memberikan return rata-rata 25% per tahun, maka Ibu Sylvi cukup menanamkan lumpsum modalnya sebesar Rp.176.000.000,-

Even contoh lumpsum diatas, gw saranin sih 176jt tetap dipecah menjadi beberapa bulan . Misalnya bulan Januari 50jt, bulan feb 60jt, bulan maret 66jt. Jadi harganya tetap bisa bervariasi.

Apapun pilihan cara berinvestasi, yang penting sih invest aja disesuaikan dengan kondisi keuangan dan kenyamanan dalam bertransaksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.